Semesta alam
Sejak semesta menanam rahasia dan mimpi.
Disitulah tak kutemukan lagi malam pagi yang berulang.
Waktu masih suka menyapaku di antara tenang dan tergesa gesa,untuk memberi tahu rahasia dan bagaimana selalu berkemas dan meluruh.
Dalam patahan patahan itu aku mengenal percakapan siang dengan malam,
keharusan dan keterpaksaan,terik dan larik,menarik dan melepaskan,menjawab dan menanyakan.
Dan hanya Dia yang bukan salah satu dari ribuan garis patah yang aku tahu.
Entah mulai kapan belantara menanam rahasia dan mimpi di denyut Adam,
aku tidak tau.
Yang aku peduli adalah bahwa Adam dan Eva menyeduh malam bersama.
Mereka saling menerpa wajah dan kerut di daun usia.
Mmasih ada tawa,masih ada luka.
Tetapi disitulah mereka mengenali siang penuh awan.
Pria dan wanita,sebentuk paras dan lekukan,nafas dan hembusan.
Duhai,aku dan kekasihku,
seperti Adam dan Hawa,seperti pria dan wanita lainnya,
Berlayar ke tepi tepi hari yang belum datang.
Sejak semesta menanam rahasia dan mimpi,
dia juga berbisik,bahwa"kita semua bernama pelangi",membentang dengan kekurangan dan kelebihan,kesalehan dan keburukan,serta cahaya dan kegelapan.
Sungguh diri beraneka warna,maka jangan katakan dirimu suci.
Kita semua bernama pelangi.
Warna kita sangat beraneka tetapi tetap mendapat air dari Kolam yang sama.
Disitulah tak kutemukan lagi malam pagi yang berulang.
Waktu masih suka menyapaku di antara tenang dan tergesa gesa,untuk memberi tahu rahasia dan bagaimana selalu berkemas dan meluruh.
Dalam patahan patahan itu aku mengenal percakapan siang dengan malam,
keharusan dan keterpaksaan,terik dan larik,menarik dan melepaskan,menjawab dan menanyakan.
Dan hanya Dia yang bukan salah satu dari ribuan garis patah yang aku tahu.
Entah mulai kapan belantara menanam rahasia dan mimpi di denyut Adam,
aku tidak tau.
Yang aku peduli adalah bahwa Adam dan Eva menyeduh malam bersama.
Mereka saling menerpa wajah dan kerut di daun usia.
Mmasih ada tawa,masih ada luka.
Tetapi disitulah mereka mengenali siang penuh awan.
Pria dan wanita,sebentuk paras dan lekukan,nafas dan hembusan.
Duhai,aku dan kekasihku,
seperti Adam dan Hawa,seperti pria dan wanita lainnya,
Berlayar ke tepi tepi hari yang belum datang.
Sejak semesta menanam rahasia dan mimpi,
dia juga berbisik,bahwa"kita semua bernama pelangi",membentang dengan kekurangan dan kelebihan,kesalehan dan keburukan,serta cahaya dan kegelapan.
Sungguh diri beraneka warna,maka jangan katakan dirimu suci.
Kita semua bernama pelangi.
Warna kita sangat beraneka tetapi tetap mendapat air dari Kolam yang sama.
Comments
Post a Comment